Tampilkan postingan dengan label railway indonesian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label railway indonesian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 April 2012

Hunting Loko Bahagia Perhutani Cepu


Jos..jos..jos... suara mesin uap dari loko hitam milik KPH Cepu. Ketangguhannya masih terasa dengan beban 5 gerbong bermuatan tangki air dan gelondongan kayu jati. Sungguh hari itu, kami bahagia melihat kembali Loko Uap BAHAGIA.
 Pagi buta, kawasan hutan di wilayah KPH (Kesatuan Pemangku Hutan) Cepu masih gelap gulita. Dari Dipo Lokomotif milik KPH Cepu suara desisan uap panas dan sesekali lengkingan seruling lokomotif terdengar samar-samar dari kejauhan. Tim Majalah KA pun bergegas berangkat dari Wisma Perhutani menuju sumber suara. Sayangnya, sesampai sana, lokomotif uap sudah berangkat sepuluh menit yang lalu. Dua tukang ojek langsung menggeber motornya untuk membawa kami mengejar Si Ular Hitam. Setiba di TPK (Tempat Penimbunan Kayu) Balokan kami masih melihat sosok hitam panjang dengan lengkingan khas. Namun ketika kami akan lari mengejar, sang ular hitam telah berjalan cepat menembus sisa-sisa kegelapan hutan Jati.
Tak ada jalan lain kami pun memutar jalan cukup jauh sejauh hampir 7 kilometer untuk mencegatnya di Brug (jembatan rel) Brosot Desa Sambongrejo, Kecamatan Sambong. Brug yang membentang di atas jalan raya Cepu-Blora ini sempat dua kali ambrol akibat ditabrak truk trailer pada 14 Juni 2009 dan 12 September 2009. Sehingga beberapa waktu, KA Wisata Hutan Jati Cepu tak bisa sampai tujuan akhir Gubug Payung.
Sejam penantian di gardu Poskamhut (Pos Keamanan Hutan), lengkingan loko uap BAHAGIA terdengar makin dekat. Namun sebagai pembuka jalan, lori putih beratap hijau muda bergambar loko uap bertuliskan Wisata Kereta Perum Perhutani KPH Cepu” sampai lebih dulu di Brug Brosot. Kalau dalam PT KAI (Persero), lori pembuka ini sebagai KAIS (Kereta Api Inspeksi). Dua orang turun membawa palu besi dan dandang (cangkul khusus untuk memadatkan batu balast). Kedua petugas langsung berjalan menuju tengah jembatan dan membetulkan posisi bantalan kayu agar jaraknya sama denagn lainnya. Paku penambat jenis tirpon yang kendur dipukul agar cengkeraman kaki rel dengan bantalan lebih kuat.
Hari itu, rombongan FarRail (Komunitas Pecinta Lokomotif Uap Se-Dunia) yang bermarkas di Jerman datang untuk menyewanya. Wow!!! Hebring banget!!! Lokomotif uap bernomor 9409 buatan tahun 1928 nampak gagah. Lokomotif bergandar 5 itu bukan menarik kereta kayu yang biasa untuk membawa wisatawan. Namun menarik 5 gerbong PR (gerbong terbuka dengan rem tangan).
Sesuai permintaan para bule asal Jerman, Belanda dan Swiss yang menyewa, dua gerbong di belakang lokomotif berisi tangki air berbentuk kotak dan 3 gerbong datar lagi bermuatan gelondongan kayu jati.  Berjalan menyusuri rel kecil yang sudah tua dengan bantalan kayu, melintas jembatan, persawahaan, pemukiman penduduk dan hutan jati yang sedang menghijau.
Terakhir seluruh muatan gelondongan kayu jati diturunkan di TPK (Tempat Penimbunan Kayu) Balokan.  Sungguh luarbiasa, seperti melihat kembali pada masa jaman Simbah (kakek-nenek) ketika lokomotif uap ini sering wira-wiri mengangkut kayu jati. Momen langka, membekas kenangan untuk diceritakan kembali ke anak-cucu kelak.
AMAD SUDARSIH

Kamis, 26 April 2012

Blusukan Sepur Kebun Sawit Dolok Ilir


     Kami putuskan menginap di Tebingtinggi untuk bisa pagi-pagi sekali berangkat naik KA CPO ke Kebun Dolok Ilir. Sesuai rencana, tepat pukul 6.30 WIB, KA CPO kosongan berangkat dari Stasiun Tebingtinggi menuju Stasiun Dolok Merangir. Perjalanan tak begitu kencang karena jalurnya yang berkelok dan terdapat tanjakan. Sepanjang perjalanan, pemandangan yang terhampar di sepanjang kanan-kiri rel mayoritas perkebunan kelapa sawit dan karet. Dua stasiun dilewati, satu stasiun mati (Stasiun Naga Kesiangan-unik juga namanya) dan Stasiun Bajalingge yang diapit dua jembatan dengan bentang sekitar 50 meter.
     Setengah jam perjalanan sampailah di Stasiun Dolok Merangir. Lok pun langsung dilepas untuk pindah posisi arah balik menuju Kebun Dolok Ilir. Sembari menunggu langsiran, kami sempatkan untuk sarapan nasi uduk khas Dolok Merangir yang dijual depan rumah warga, tak jauh dari stasiun. Nikmat, gurih dan lumayan buat mengganjal perut hingga siang hari. Masinis pun biasa langganan sarapan di situ.
      Selesai sarapan, KA pun segera diberangkatkan. Untuk pemeriksaan gerbong di lokasi Kebun, petugas schowing dari Pengawas Urusan Gerbong (PUG) Dolok Merangir pun harus ikut KA sembari membantu merangkap tugas Pelayan Rem (PLRm). Kecepatan KA hanya berkisar 5-15 km/jam, dikarenakan kondisi jalan relnya yang sudah tua sekali. Relnya masih kecil R14 dengan bantalan kayu yang mayoritas sudah lapuk dan terbenam tanah.
      Di beberapa titik bila musim hujan, relnya nyaris tak terlihat sama sekali. Benar-benar masih peninggalan Belanda dan hanya dilakukan tambahan perkuatan dengan potongan-potongan rel yang dijadikan bantalan besi di sela-sela bantalan kayu yang lapuk. Kalau di Jawa, kondisi seperti itu sudah masuk kategori tak laik atau tak aman untuk dilewati KA. Namun tak demikian di Divre ujung utara Sumatera ini. Mayoritas lintas cabang yang menuju Kebun milik PTPN sudah sedemikian memprihatinkan prasarana jalan relnya. Padahal setiap hari dilalui KA dengan muatan CPO ribuan liter untuk dibawa ke Belawan.
    Setiap harinya satu KA dengan membawa rangkaian 8-10 gerbong ketel keluar-masuk ke tempat pengisian CPO di Kebun Dolok Ilir milik PTPN III yang hanya sekitar 7 km dari Stasiun Dolok Merangir. Beruntung sepanjang jalan, hamparan perkebunan kelapa sawit dan karet sangat memukau untuk kami nikmati sebagai penyejuk mata. Maklum, di Jakarta, kami suntuk dengan pemandangan kemacetan dan hutan gedung-gedung bertingkat.
    Setiba di stasiun pengisian, lok pun dilepas untuk pindah posisi. Saat memindah wesel yang hilang bandulnya, petugas pun harus menggesernya dengan mencongkelnya dengan linggis panjang. Benar-benar wesel terlayan setempat. Lok pun maju begitu lidah wesel telah bergeser posisinya ke arah sepur dua. Kami hanya geleng-geleng kepala. Untung tak sampai anjlok rodanya.
       Setelah pindah posisi, dari semula hidung panjang (longhood), kini posisi lokomotif kembali pada posisi hidung pendek (shorthood). Sebelum dilakukan pengisian, satu persatu rangkaian dimundurkan untuk dilakukan penimbangan gerbong dalam kondisi kosong. Selanjutnya petugas pengisian memasang corong pipa ke lubang ketel. Hanya ada dua corong sehingga setiap pengisian hanya dua gerbong ketel, dan bergantian dua gerbong belakangnya hingga terakhir. Setelah terisi muatan CPO, gerbong pun ditarik maju untuk ditimbang muatannya. Dari pukul 10 pagi, pengisian untuk 10 gerbong ketel selesai hinggai pukul 3 sore. Selesai pengisian, KA bermuatan CPO langsung diberangkatkan menuju Stasiun Dolok Merangir. Selanjutnya dibawa ke Stasiun Tebingtinggi untuk diteruskan dibawa ke Belawan.
AMAD SUDARSIH