Selasa, 01 Mei 2012

Napak Tilas Semarang-Tanggung


Langit di Kota Semarang dan Grobogan begitu cerah. Secerah raut wajah 80-an orang peserta Napak Tilas Terbangunnya Jalur Kereta Api pertama di Indonesia yang sudah berkumpul sejak pukul tujuh pagi di peron satu Stasiun Semarang Tawang. Sebagian peserta tampil mengenakan pakaian adat Jawa dengan blangkon untuk yang pria dan berkebaya untuk yang wanita. Para pejabat PT KAI (Persero) Daop IV Semarang secara khusus mengenakan pakaian ala Kompeni Belanda, baju putih berikut topi bundar warna putih. Sang Kondektur tampil mengenakan baju tentara pejuang. Selain dihadiri para pecinta kereta api (railfans) dari beberapa komunitas, peserta dari Komunitas Onthel Semarang juga tak ketinggalan, lengkap dengan sepeda onthel jadul turut dibawa.
        Bila pada tahun lalu, napak tilas menggunakan KLB (KA Luarbiasa) yang ditarik lokomotif BB200, kali ini PT KAI Daop IV Semarang menjalankan KLB NIS 01. KLB NIS 01 terdiri dari 3 gerbong barang (2 gerbong tertutup GW yang dimodifikasi menjadi kereta penumpang klasik seperti kereta kayu dan 1 gerbong terbuka YR yang dimodifikasi dilengkapi bangku panjang). Kapasitas 3 gerbong tersebut mampu mengangkut sekitar 90 penumpang. Dan yang unik lagi, lok penariknya bukan BB200 melainkan lok D301 bercat hijau-kuning dengan plat nomor seri diganti NIS 01.
       “Modifikasi gerbongnya seperti cerita Bandung-Bondowoso,hanya dua minggu lho! Nantinya keretanya akan kita jalankan untuk KA Wisata Ambarawa-Tuntang mulai akhir tahun ini, setelah perbaikan relnya selesai. Loknya menggunakan lok DH, sudah kita siapkan,” jelas Ella Ubaidi, EVP Pusat Pelestarian PT KAI (Persero) didampingi DVP Daop IV Semarang Subagyo kepada wartawan di Stasiun Tanggung.
      Satu setengah jam perjalanan, KLB NIS 01 akhirnya tiba di Stasiun Tanggung. Rombongan Napak Tilas yang dihadiri juga Direktur Komersial PT KAI (Persero) S.Wimbo Hardjito langsung disambut untaian bunga dan hiburan musik keroncong. Acara renungan 143 Tahun Terbangunnya Jalur KA Indonesia pun dimulai. Dalam acara tersebut, PT KAI menyerahkan santunan untuk anak yatim sekitar stasiun dan dilanjutkan penanaman pohon.
“Kami sampaikan terimakasih kepada seluruh pecinta kereta api yang mendukung karena kesungguhan hati merekalah yang mejadikan kita bangkit kembali untuk memperbaiki apa yang sangat bagus dari sisi sejarah,” ungkap Wimbo dalam sambutannya.
Pada kesempatan tersebut, turut memberikan sambutan dari Sesepuh Pecinta KA asal Semarang Tjahjono Rahardjo dan Pemerhati KA dari Unika Soegijopranoto Djoko Setiyowarno. Keduanya menyoroti lambannya perkembangan perkeretaapian di Indonesia dibandingkan negara lain.
“China yang selama ini getol membangun jalan tol, kini beralih untuk mengembangkan jalur kereta. Bila Pemerintah Indonesia tidak segera memberikan perhatian lebih kepada moda transportasi kereta api, kemacetan di berbagai kota besar akan kian parah,” tegas Djoko Setiyowarno.
AMAD SUDARSIH





Tidak ada komentar:

Posting Komentar