Langit di Kota
Semarang dan Grobogan begitu cerah. Secerah raut wajah 80-an orang peserta
Napak Tilas Terbangunnya Jalur Kereta Api pertama di Indonesia yang sudah
berkumpul sejak pukul tujuh pagi di peron satu Stasiun Semarang Tawang.
Sebagian peserta tampil mengenakan pakaian adat Jawa dengan blangkon untuk yang
pria dan berkebaya untuk yang wanita. Para pejabat PT KAI (Persero) Daop IV
Semarang secara khusus mengenakan pakaian ala Kompeni Belanda, baju putih
berikut topi bundar warna putih. Sang Kondektur tampil mengenakan baju tentara
pejuang. Selain dihadiri para pecinta kereta api (railfans) dari beberapa
komunitas, peserta dari Komunitas Onthel Semarang juga tak ketinggalan, lengkap
dengan sepeda onthel jadul turut dibawa.
Bila
pada tahun lalu, napak tilas menggunakan KLB (KA Luarbiasa) yang ditarik
lokomotif BB200, kali ini PT KAI Daop IV Semarang menjalankan KLB NIS 01. KLB
NIS 01 terdiri dari 3 gerbong barang (2 gerbong tertutup GW yang dimodifikasi
menjadi kereta penumpang klasik seperti kereta kayu dan 1 gerbong terbuka YR
yang dimodifikasi dilengkapi bangku panjang). Kapasitas 3 gerbong tersebut
mampu mengangkut sekitar 90 penumpang. Dan yang unik lagi, lok penariknya bukan
BB200 melainkan lok D301 bercat hijau-kuning dengan plat nomor seri diganti NIS
01.
“Modifikasi
gerbongnya seperti cerita Bandung-Bondowoso,hanya dua minggu lho! Nantinya
keretanya akan kita jalankan untuk KA Wisata Ambarawa-Tuntang mulai akhir tahun
ini, setelah perbaikan relnya selesai. Loknya menggunakan lok DH, sudah kita
siapkan,” jelas Ella Ubaidi, EVP Pusat Pelestarian PT KAI (Persero) didampingi
DVP Daop IV Semarang Subagyo kepada wartawan di Stasiun Tanggung.
Satu
setengah jam perjalanan, KLB NIS 01 akhirnya tiba di Stasiun Tanggung.
Rombongan Napak Tilas yang dihadiri juga Direktur Komersial PT KAI (Persero)
S.Wimbo Hardjito langsung disambut untaian bunga dan hiburan musik keroncong.
Acara renungan 143 Tahun Terbangunnya Jalur KA Indonesia pun dimulai. Dalam acara tersebut, PT KAI menyerahkan
santunan untuk anak yatim sekitar stasiun dan dilanjutkan penanaman pohon.
“Kami sampaikan terimakasih kepada
seluruh pecinta kereta api yang mendukung karena kesungguhan hati merekalah
yang mejadikan kita bangkit kembali untuk memperbaiki apa yang sangat bagus
dari sisi sejarah,” ungkap Wimbo dalam sambutannya.
Pada kesempatan tersebut, turut memberikan sambutan dari Sesepuh Pecinta KA
asal Semarang Tjahjono Rahardjo dan Pemerhati KA dari Unika Soegijopranoto
Djoko Setiyowarno. Keduanya menyoroti lambannya perkembangan perkeretaapian di
Indonesia dibandingkan negara lain.
“China yang selama ini getol membangun jalan tol, kini beralih untuk
mengembangkan jalur kereta. Bila Pemerintah Indonesia tidak segera memberikan
perhatian lebih kepada moda transportasi kereta api, kemacetan di berbagai kota
besar akan kian parah,” tegas Djoko Setiyowarno.
AMAD
SUDARSIH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar